Individu
yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi adalah individu - individu yang
memiliki nilai IQ yang tinggi. Karakteristik yang telah di buat oleh para ahli
sebagai faktor dasar dalam konsep inteligensi tinggi yaitu secara umum
dikatakan bahwa individu yang memiliki inteligensi tinggi, memiliki kemampuan
yang tinggi pula pada ketiga aspek yaitu; (1) kemampuan memecahkan masalah, (2)
kemampuan verbal baik, (3) kemampuan praktis yang baik. Ketiga komponen tadi
didapat melalui pengaruh faktor bawaan maupun faktor belajar.
Menurut
Cattle dan Wechler, individu dikatakan cerdas adalah individu yang memiliki
skor IQ 110 keatas. Cattle mengukur tentang inteligensi yang dipengaruhi oleh
faktor bawaan, sedangkan Wechler mengukur inteligensi secara umum yang
dipengaruhi oleh faktor pengalaman belajar seseorang.
Kecerdasan Intelektual (Intelligence Qoutiont ‘IQ’)
IQ atau
intelligence quotient diperkenalkan pertama kalinya pada tahun 1912 oleh
seorang ahli psikologi dari Jerman yaitu William Stern. Salah satu cara yang
sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat inteligensi adalah
menerjemahkan hasil tes inteligensi ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk
mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara
relative terhadap suatu norma ( Azwar: 2004).
Intelegensi
berkorelasi positif dengan prestasi belajar. Salah satu konsep yang pernah
dirumuskan oleh para ahli bahwa keberhasilan dalam belajar dipengaruhi oleh
banyak faktor yang bersumber dari dalam maupun dari luar diri. Faktor dari
dalam terdiri dari fisik; panca indra, kondisi fisik umum. Psikologis
variable non kognitif; minat, motivasi, kepribadian. Psikologis kemampuan
kognitif; bakat, inteligensi. Sedangkan faktor eksternal, fisik; kondisi tempat
belajar, sarana dan perlengkapan belajar, materi pelajaran, kondisi lingkungan
belajar. Sosial; dukungan sosial dan pengaruh budaya ( Azwar: 2004).
Mereka
yang memiliki inteligensi tinggi diharapkan akan dapat memperoleh prestasi
belajar yang tinggi pula. Salah satu definisi inteligensi memang menyebutkan
bahwa inteligensi, antara lain merupakan kemampuan untuk belajar (Wechsler, 1958;
Freeman, 1962). Begitu juga kemudahan dalam belajar disebabkan oleh tingkat
inteligensi yang tinggi yang terbentuk oleh ikatan-ikatan syaraf (neural bonds)
antara stimulus dan respon yang mendapat penguatan (Thorndike; dalam Wilson,
Robeck, & Michael, 1974; dalam Azwar; 2004).
Berkebalikan
dengan mereka yang meiliki inteligensi tinggi. Mereka yang memiliki inteligensi
rendah akan mengalami keterlambatan dalam belajar (slow learner). Dalam
dunia pendidikan megetahui IQ berimplikasi penting dalam memberikan perlakuan
yang berbeda pada masing-masing kemampuan secara adil. Anak yang memiliki
inteligensi rendah sehingga kemampuan belajarnya sangat terbatas memerlukan
program khusus yang memungkinkan mereka belajar dengan beban dan kecepatan yang
disesuaikan dengan kemampuan mereka. begitu pula sebaliknya dengan mereka yang
memiliki IQ yang tinggi juga diberikan program khusus untuk memungkinkan mereka
mengembangkan segenap potensi berlebih yang mereka miliki ( Azwar: 2004).
Karakteristik Anak yang Memiliki Kecerdasan
Intelektual Tinggi
Di
Indonesia, identifikasi anak berbakat mulai menjadi perhatian. Berdasarkan data
yang diperoleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2006, terdapat 52.989.800 anak
usia sekolah. Jumlah anak cerdas berbakat di Indonesia mencapai 1,05 juta anak
atau 2,2% dari jumlah anak usia sekolah (“Anak Berbakat Istimewa Perlu
Diperhatikan”, 2011). Benyak dari anak cerdas di Indonesia mendapatkan program
khusus dalam pendidikan dalam bentuk program akselerasi.
Orang yang
memiliki kecerdasan intelektual (IQ) yang cukup tinggi tidah hanya dapat
dilihat dari jumlah skor tes IQ. Namun, dapat terlihat juga dari isi aspek yang
diukur dalam tes tersebut. Misalnya Wechler dalam penyusunan tes WAIS
mengatakan bahwa orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi secara umum
adalah mereka yang:
1.
Memiliki kemampuan verbal yang baik
2.
Memiliki pengetahuan umum yang luas
3.
Memiliki pemahaman yang tinggi akan teks
4.
Memiliki kemampuan aritmatik yang baik
5.
Memiliki kemampuan pengabstraksian fikiran yang baik.
6.
Memiliki kemampuan mengingat yang tinggi.
7.
Memiliki banyak kosa kata
8.
Memiliki kemampuan visual motorik yang terkoordinasi
baik.
9.
Menyukai akan detail
10.
10. Memiliki kemampuan perencanaan yang baik
11.
11. Memiliki kemampuan alasan non verbal
12.
12. Memiliki kemampuan analisis hubungan dari
bagian- bagian dari suatu yang berhubungan satu sama lain.
Perkembangan Kognitif Individu
Psikolog
Swiss terkenal bernama Jean Piaget (1896-1980) menekankan bahwa anak-anak
membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Informasi tidak sekedar
dituangkan ke dalam fikiran mereka dari lingkungan. Piaget yakin bahwa
anak-anak menyesuaikan pemikiran mereka untuk mencangkup gagasan-gagasan yang
baru, karena informasi tambahan memajukan pemahaman. Dalam pandangan Piaget,
dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu ialah: pengorganisasian
dan penyesuaian.
Inteligensi
Inteligensi berasal dari suatu konsepsi lama mengenai
suatu kekuatan (power) yang dikemukakan oleh Spearman dan Wynn jones
kekuatan itu dapat melengkapi akal fikiran manusia dengan gagasan abstrak yang
universal, untuk dijadikan sumber tunggal pengetahuan sejati. Kekuatan tersebut
dalam bahasa yunani disebut nous, sedangkan penggunaan kekuatan
tersebut disebut noesis. Kemudian dalam bahasa latin istilah itu
dikenal dengan intellectus dan intellegentia. Pada
gilirannya, dalam bahasa inggris masing-masing diterjemahkan sebagai intellect dan intelligence.
Inteligensi
adalah kemampuan verbal, keterampilan-keterampilan memecahkan masalah, dan
kemampuan-kemampuan untuk belajar beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan
pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari. James cattell, seorang pengikut
Galton, mengemukakan dalam teorinya mengenai organisasi mental, Cattle (1963)
mengklasifikasikan kemampuan mental menjadi dua macam, yaitu Intelegensi fluid (gf)
yang merupakan faktor bawaan biologis, dan Inteligensi crystallized (gc)
yang merefleksikan adanya pengaruh pengalaman, pendidikan, dan kebudayaan dalam
diri seseorang (Mouly, 1973).
Inteligensi fluid merupakan
kemampuan bawaan yang diperoleh seseorang sejak kelahiran dan terlepas dari
pengaruh faktor belajar, pendidikan, dan pengalaman. Intelegensi ini dapat
dipandang sebagai faktor yang tidak berbentuk yang mengalir ke dalam berbagai
variasi kemampuan intelektual. Intelegensi fluid sangat
penting untuk keberhasilan melakukan tugas-tugas yang menuntut kemampuan
adaptasi atau penyesuaian pada situasi-situasi baru dimana Intelegensi crystallized tidak
terlalu berperan. Intelegensi ini cenderung tidak berubah setelah usia 14 tahun
atau 15 tahun.
Inteligensi crystallized merupakan
endapan pengalaman-pengalaman individu yang terjadi sewaktu Intelegensi fluid bercampur
dengan yang disebut sebagai inteligensi budaya. Inteligensi crystallized akan
meningkat kadarnya seiring dengan bertambahnya pengalaman.
Dengan kata lain tugas-tugas kognitif dimana
keterampilan-keterampilan dan kebiasaan-kebiasaan telah mengkristal akibat dari
pengalaman sebelumnya, seperti kekayaan kosa kata, pengetahuan, kebiasaan
penalaran, dan semacamnya. Inteligensicrystallized adalah sebagai
kemampuan umum untuk menyelesaikan masalah yang dimiliki seorang individu.
Inteligensi crystallized masih dapat terus berkembang sampai
usia 30-40 tahunan atau bahkan lebih. Hal ini karena seperti yang telah
dijeaskan sebelumnya bahwa Inteligensi crystallized tergantung
pada pengalaman dan pengetahuan yang didapat individu.
Lebih
jauh lagi selain inteligensi dari faktor bawaan, kecerdasan intelegensi yang
didapat melalui faktor belajar dapat dijelaskan dengan pendekatan teori
belajar. Definisi inteligensi yang berlandaskan pengaruh dari lingkungan
dijelaskan oleh Wescler Bellevue dia mengatakan bahwa inteligensi merupakan
suatu agregat atau kapasitas global individu, untuk dapat bertindak secara
terarah, berfikir secara rasional dan berhubungan secara efektif dengan
lingkungannya ( Azwar, 2004)
Inti pendekatan teori belajar mengenai hakikat
inteligensi terletak pada permasalahan mengenai hukum-hukum dan prinsip umum
yang digunakan individu untuk memperoleh bentuk-bentuk perilaku baru. Bagi para
ahli teori belajar, suatu perilaku inteligen adalah perilaku yang berisi proses
belajar (learning process) pada level fungsional tingkat tinggi
dan merupakan respon khusus terhadap tuntutan dari luar. Hal ini berarti adanya
interaksi individu dengan lingkungannya dimana inteligensi dinilai dari
kelayakan perilakunya dibandingkan dengan suatu kriteria luar yang berlaku
sebagai norma relatif (Azwar, 2004).
Faktor yang Mempengaruhi dan yang Menstimulasi
Perkembangan Inteligensi Individu.
Inteligensi
dipengaruhi oleh interaksi antara faktor keturunan dan faktor lingkungan.
faktor keturunan jelas gen dari kedua orangtua yang mewarisi berbagai karakter.
Sedangkan faktor lingkungan yang mempengaruhi inteligensi adalah melalui proses
belajar, interaksi dengan dunia sekitar, interaksi anak dengan orangtua,
pengaruh budaya mempengaruhi secara tidak langsung melalui standard dan norma
sosial yang menjadi acuan individu berfikir dan bertingkah laku.
0 comments:
Post a Comment