Monday, July 7, 2014

ANAK YANG MEMILIKI KECERDASAN

      Individu yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi adalah individu - individu yang memiliki nilai IQ yang tinggi. Karakteristik yang telah di buat oleh para ahli sebagai faktor dasar dalam konsep inteligensi tinggi yaitu secara umum dikatakan bahwa individu yang memiliki inteligensi tinggi, memiliki kemampuan yang tinggi pula pada ketiga aspek yaitu; (1) kemampuan memecahkan masalah, (2) kemampuan verbal baik, (3) kemampuan praktis yang baik. Ketiga komponen tadi didapat melalui pengaruh faktor bawaan maupun faktor belajar.

      Menurut Cattle dan Wechler, individu dikatakan cerdas adalah individu yang memiliki skor IQ 110 keatas. Cattle mengukur tentang inteligensi yang dipengaruhi oleh faktor bawaan, sedangkan Wechler mengukur inteligensi secara umum yang dipengaruhi oleh faktor pengalaman belajar seseorang.

Kecerdasan Intelektual (Intelligence Qoutiont ‘IQ’)
     IQ atau intelligence quotient diperkenalkan pertama kalinya pada tahun 1912 oleh seorang ahli psikologi dari Jerman yaitu William Stern. Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat inteligensi adalah menerjemahkan hasil tes inteligensi ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relative terhadap suatu norma ( Azwar: 2004).

     Intelegensi berkorelasi positif dengan prestasi belajar. Salah satu konsep yang pernah dirumuskan oleh para ahli bahwa keberhasilan dalam belajar dipengaruhi oleh banyak faktor yang bersumber dari dalam maupun dari luar diri. Faktor dari dalam terdiri dari fisik; panca indra, kondisi fisik umum. Psikologis variable  non kognitif; minat, motivasi, kepribadian. Psikologis kemampuan kognitif; bakat, inteligensi. Sedangkan faktor eksternal, fisik; kondisi tempat belajar, sarana dan perlengkapan belajar, materi pelajaran, kondisi lingkungan belajar. Sosial; dukungan sosial dan pengaruh budaya ( Azwar: 2004).

      Mereka yang memiliki inteligensi tinggi diharapkan akan dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Salah satu definisi inteligensi memang menyebutkan bahwa inteligensi, antara lain merupakan kemampuan untuk belajar (Wechsler, 1958; Freeman, 1962). Begitu juga kemudahan dalam belajar disebabkan oleh tingkat inteligensi yang tinggi yang terbentuk oleh ikatan-ikatan syaraf (neural bonds) antara stimulus dan respon yang mendapat penguatan (Thorndike; dalam Wilson, Robeck, & Michael, 1974; dalam Azwar; 2004).

     Berkebalikan dengan mereka yang meiliki inteligensi tinggi. Mereka yang memiliki inteligensi rendah akan mengalami keterlambatan dalam belajar (slow learner). Dalam dunia pendidikan megetahui IQ berimplikasi penting dalam memberikan perlakuan yang berbeda pada masing-masing kemampuan secara adil. Anak yang memiliki inteligensi rendah sehingga kemampuan belajarnya sangat terbatas memerlukan program khusus yang memungkinkan mereka belajar dengan beban dan kecepatan yang disesuaikan dengan kemampuan mereka. begitu pula sebaliknya dengan mereka yang memiliki IQ yang tinggi juga diberikan program khusus untuk memungkinkan mereka mengembangkan segenap potensi berlebih yang mereka miliki ( Azwar: 2004).

Karakteristik Anak yang Memiliki Kecerdasan Intelektual Tinggi  
     Di Indonesia, identifikasi anak berbakat mulai menjadi perhatian. Berdasarkan data yang diperoleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2006, terdapat 52.989.800 anak usia sekolah. Jumlah anak cerdas berbakat di Indonesia mencapai 1,05 juta anak atau 2,2% dari jumlah anak usia sekolah (“Anak Berbakat Istimewa Perlu Diperhatikan”, 2011). Benyak dari anak cerdas di Indonesia mendapatkan program khusus dalam pendidikan dalam bentuk program akselerasi.

      Orang yang memiliki kecerdasan intelektual (IQ) yang cukup tinggi tidah hanya dapat dilihat dari jumlah skor tes IQ. Namun, dapat terlihat juga dari isi aspek yang diukur dalam tes tersebut. Misalnya Wechler dalam penyusunan tes WAIS mengatakan bahwa orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi secara umum adalah mereka yang:
1.         Memiliki kemampuan verbal yang baik
2.       Memiliki pengetahuan umum yang luas
3.       Memiliki pemahaman yang tinggi akan teks
4.       Memiliki kemampuan aritmatik yang baik
5.       Memiliki kemampuan pengabstraksian fikiran yang baik.
6.       Memiliki kemampuan mengingat yang tinggi.
7.        Memiliki banyak kosa kata
8.       Memiliki kemampuan visual motorik yang terkoordinasi baik.
9.        Menyukai akan detail
10.     10.  Memiliki kemampuan perencanaan yang baik
11.       11.  Memiliki kemampuan alasan non verbal
12.     12.  Memiliki kemampuan analisis hubungan dari bagian- bagian dari suatu yang berhubungan satu sama lain.
Perkembangan Kognitif Individu
      Psikolog Swiss terkenal bernama Jean Piaget (1896-1980) menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Informasi tidak sekedar dituangkan ke dalam fikiran mereka dari lingkungan. Piaget yakin bahwa anak-anak menyesuaikan pemikiran mereka untuk mencangkup gagasan-gagasan yang baru, karena informasi tambahan memajukan pemahaman. Dalam pandangan Piaget, dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu ialah: pengorganisasian dan penyesuaian.
Inteligensi
Inteligensi berasal dari suatu konsepsi lama mengenai suatu kekuatan (power) yang dikemukakan oleh Spearman dan Wynn jones kekuatan itu dapat melengkapi akal fikiran manusia dengan gagasan abstrak yang universal, untuk dijadikan sumber tunggal pengetahuan sejati. Kekuatan tersebut dalam bahasa yunani disebut nous, sedangkan penggunaan kekuatan tersebut disebut noesis. Kemudian dalam bahasa latin istilah itu dikenal dengan intellectus dan intellegentia. Pada gilirannya, dalam bahasa inggris masing-masing diterjemahkan sebagai intellect dan intelligence.

       Inteligensi adalah kemampuan verbal, keterampilan-keterampilan memecahkan masalah, dan kemampuan-kemampuan untuk belajar beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari. James cattell, seorang pengikut Galton, mengemukakan dalam teorinya mengenai organisasi mental, Cattle (1963) mengklasifikasikan kemampuan mental menjadi dua macam, yaitu Intelegensi fluid (gf) yang merupakan faktor bawaan biologis, dan Inteligensi crystallized (gc) yang merefleksikan adanya pengaruh pengalaman, pendidikan, dan kebudayaan dalam diri seseorang (Mouly, 1973).

        Inteligensi fluid merupakan kemampuan bawaan yang diperoleh seseorang sejak kelahiran dan terlepas dari pengaruh faktor belajar, pendidikan, dan pengalaman. Intelegensi ini dapat dipandang sebagai faktor yang tidak berbentuk yang mengalir ke dalam berbagai variasi kemampuan intelektual. Intelegensi fluid sangat penting untuk keberhasilan melakukan tugas-tugas yang menuntut kemampuan adaptasi atau penyesuaian pada situasi-situasi baru dimana Intelegensi crystallized tidak terlalu berperan. Intelegensi ini cenderung tidak berubah setelah usia 14 tahun atau 15 tahun.

        Inteligensi crystallized merupakan endapan pengalaman-pengalaman individu yang terjadi sewaktu Intelegensi fluid bercampur dengan yang disebut sebagai inteligensi budaya. Inteligensi crystallized akan meningkat kadarnya seiring dengan bertambahnya pengalaman.
        Dengan kata lain tugas-tugas kognitif dimana keterampilan-keterampilan dan kebiasaan-kebiasaan telah mengkristal akibat dari pengalaman sebelumnya, seperti kekayaan kosa kata, pengetahuan, kebiasaan penalaran, dan semacamnya. Inteligensicrystallized adalah sebagai kemampuan umum untuk menyelesaikan masalah yang dimiliki seorang individu. Inteligensi crystallized masih dapat terus berkembang sampai usia 30-40 tahunan atau bahkan lebih. Hal ini karena seperti yang telah dijeaskan sebelumnya bahwa Inteligensi crystallized tergantung pada pengalaman dan pengetahuan yang didapat individu.

       Lebih jauh lagi selain inteligensi dari faktor bawaan, kecerdasan intelegensi yang didapat melalui faktor belajar dapat dijelaskan dengan pendekatan teori belajar. Definisi inteligensi yang berlandaskan pengaruh dari lingkungan dijelaskan oleh Wescler Bellevue dia mengatakan bahwa inteligensi merupakan suatu agregat atau kapasitas global individu, untuk dapat bertindak secara terarah, berfikir secara rasional dan berhubungan secara efektif dengan lingkungannya ( Azwar, 2004)
Inti pendekatan teori belajar mengenai hakikat inteligensi terletak pada permasalahan mengenai hukum-hukum dan prinsip umum yang digunakan individu untuk memperoleh bentuk-bentuk perilaku baru. Bagi para ahli teori belajar, suatu perilaku inteligen adalah perilaku yang berisi proses belajar (learning process)  pada level fungsional tingkat tinggi dan merupakan respon khusus terhadap tuntutan dari luar. Hal ini berarti adanya interaksi individu dengan lingkungannya dimana inteligensi dinilai dari kelayakan perilakunya dibandingkan dengan suatu kriteria luar yang berlaku sebagai norma relatif (Azwar, 2004).

Faktor yang Mempengaruhi dan yang Menstimulasi Perkembangan Inteligensi Individu.
      Inteligensi dipengaruhi oleh interaksi antara faktor keturunan dan faktor lingkungan. faktor keturunan jelas gen dari kedua orangtua yang mewarisi berbagai karakter. Sedangkan faktor lingkungan yang mempengaruhi inteligensi adalah melalui proses belajar, interaksi dengan dunia sekitar, interaksi anak dengan orangtua, pengaruh budaya mempengaruhi secara tidak langsung melalui standard dan norma sosial yang menjadi acuan individu berfikir dan bertingkah laku.


0 comments:

Post a Comment

WALALA © 2008 Template by:
SkinCorner